Tampilkan postingan dengan label Renungan Kiki. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan Kiki. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 Februari 2016

Harmonisya Rakyat dan Pemerintah

Posted by Unknown | 20.28 Categories: , ,
Pemerintah : Rakyatku sekalian, kamilah perwakilan kalian dengan segala intelektualitas yang kami miliki diatas rata-rata orang biasa dan karena alasan itu kami berdiri disini, mengayomi kalian. Bekerja ekstra dibanding pegawai biasa, otak yang bekerja lebih dari biasanya, karena itulah yang seharusnya terjadi sebagai rasa pertanggung jawaban atas apa yang telah kami ucapkan pada sumpah kami untuk kalian, segenap rakyatku.

Rakyat : Wahai para petinggi bangsa ini, kami mempercayakan segalanya untuk kalian, doa dan harapan kami cucurkan dengan perahan paling akhir demi kalianlah yang kami percaya. Tak mengapa kami miskin sementara bila tau besok memiliki para pemimpin andalan bangsa seperti kalian, kami kira kalian lebih dari sekedar mampu bila hanya untuk mengindahkan segala keadaan kami dengan berbagai kemampuan kalian yang selama ini kami puja. Kalianlah cahaya yang bersahaja dari waktu ke waktu bagai mentari yang memberi cahaya bagi para makhluk yang memerlukan cahayamu, jasamu para petinggiku.

Pemerintah : Terima kasih atas dukungan kalian, kini kami berada dikursi paling agung di negeri seribu satu perkara ini. Tunggu... Seribu satu perkara ? Tentu kami sadar sejak awal memang hanya orang bodoh yang mau menambatkan diri demi mengurusi seribu satu perkara di bangsa ini yang bahkan mungkin tukang es doger juga paham, sulit untuk selesai bila hanya dalam jangka waktu 5 tahun atau lebih lama lagi. Jadi, sekali lagi terima kasih atas dorongan kalian, atas mobil, rumah, dan segala fasilitas ini, yang bahkan bila kami lebih memilih jadi perenung nasib sambil berdagang seperti kalian ratusan tahun takan mendapatkan ini semua secepat ini.
Kami bukan sekedar meminjam hasrat dan asa kalian, tapi kami meminjam semuanya, mungkin selamanya. Kami akan merampas segalanya, bukankah kalian tahu wahai rakyatku yang kelaparan ? Hidup ini keras, bila tidak menipu, ya sudah pasti bodohnya akan kena tipu, saling tampar menampar, berdalih dan berlomba demi menjadi yang paling diakui dan dianggap benar, bahkan kami sudah tidak tahu pasti apa itu kebenaran mutlak, untuk itu kami hiasi bangsa ini dengan beribu aturan tertulis agar terlihat indah dan sebagai kompensasi atas nama “Negara Hukum”.



Rakyat : Kami juga berterima kasih pada kalian wahai para petinggi. Tapi ada beberapa hal yang mungkin kalian belum tau, atau memang cukup bodoh berdiri di bumi indah ini bila hanya untuk menggunakan umurmu yang berharga tersenyum dihadapan uang laknatmu itu. Kami begini adalah pilihan kami sendiri, kamilah penikmat hidup yang sesungguhnya, jangan bilang bahwa kalian lupa bahwa negara ini adalah negara demokrasi ? Baiklah kami ajarkan sedikit pada kalian otak udang berdasi, dari rakyat, untuk rakyat, oleh rakyat. Dan akan tetap begitu, karena kalian sebenarnya hanya boneka yang diindahkan dengan sepotong kain dan pernak-pernik menghias dijasad arogan kalian. Kamilah sebenarnya pemegang kuasa penuh atas kalian, atas bangsa ini. Kami memiliki para pendekar buruh disektor jantung industri, kami memiliki banyak tunas cerdas mahasiswa yang segar dan muda menggelegak daripada tua tak berguna. Dan satu yang perlu kalian ketahui, tak tersiratkah dipikiran kalian bahwa betapa saktinya Pancasila hingga saat ini ? Jutaan pelajar di negeri ini setiap senin hapal dan lantang membaca 5 dasar pondasi pembentuk negeri kokoh nan indah ini. Dan kalian sempat lupa di hadapan kamera akan 5 bunyi Pancasila tersebut, kalian itu memang grogi, atau terlalu beratkah lencana-lencana yang kalian pakai.

Atas dasar apapun, dan betatapun kalian memeras habis harta di negeri ini, menjual, menjadikan semua sektor di negeri ini jadi sapi kurus sehabis diperah habis, tapi tangan kami menggenggam erat tak kenal jarak, kami tidak takut dengan keadaan apapun, kami memiliki kepercayaan penuntun akal sehat, toh sejak negeri ini lahir kami memang tidak terlalu kaya, namun bahagia adalah pilihan kami, bukan paksaan kalian yang terlalu pusing gembar-gembor membuat wacana, tapi tak lain dan tak lebih hanya pepesan busuk basi. Tapi kami di dunia nyata menyimpan rapih semua seolah tidak terjadi apapun, kamilah rakyat.

Rabu, 03 Februari 2016


Aku memiliki banyak pemuja, manusia adalah pemujaku yang paling setia. Mereka mengejarku dengan berbagai cara, mereka sebegitu ingin mendapatkanku dan membuang rasa kemanusiaanya, membuang dan menukar segala yang mereka miliki demi diriku. Mungkin saja dalam pandangan keseharian mereka tidak terlihat berlutut dan bersujud dihadapanku, tapi hiruk pikuknya dunia, dan banyaknya perselisihan antar sesama mereka adalah lebih dari cukup bukti bahwa mereka pemujaku.

Sangat sulit bagi mereka untuk membedakan mana kebutuhan dan mana keinginan, sehingga tak tarang mereka menganggapku sebagai segalanya, atau lebih tepatnya sebagai senjata untuk berperang mendapatkan segalanya. Kekeluargaan, kerukunan, kebersamaan, tali persaudaraan semua hampir mereka singkirkan demi aku, indah dan harumku menyesatkan sebagian besar dari mereka.

Dengan jumlahku yang semakin banyak mereka mempergunakanku untuk mendapatkan wewenang lebih dalam salah satu organisasi panggung politik yang bangsa mereka miliki, setelah mereka mendapatkan wewenang lebih, lalu mereka berusaha untuk mendapatkan aku dengan jumlah yang meleibihi diriku sebelumnya. Berkedok pemimpin, berpakaian rapih, tunggangan gahar dimasa kini yang terlihat apik dimasa kini tak kurang dan tak lebih terlihat seperti serigala kelaparan bermandikan air liur dimulutnya, mereka takkan puas bila hanya mendapatkan aku dengan jumlah sedikit, mereka akan terus memanfaatkan dan mengorbankan segalanya demi diriku.

Beberapa tokoh politik tersohor di media yang terkenal terjerat kasus korupsi, nafsu menggebu-gebu dan menggelegak menutupi akal pikiran mereka, aku yang seharusnya jadi nafas segar bagi orang-orang yang lebih layak mendapatkan dan mempergunakan aku dengan bijak, malah mereka sikat habis seperti aji mumpung. Aku sendiri hanya bisa menggeleng-geleng dan menepuk jidat bila aku makhluk hidup.

Ada yang main bersih dalam bersandiwara, dan ada juga yang main agak kasar dalam hal mendapatkanku. Mereka rela terlihat seperti ikan lele yang memakan sesama karena saking kelaparanya, saling menebas leher, anggota tubuh lainya, melumpuhkan sesama mereka sejadi-jadinya demi kepentingan mereka, apapun bisa agar aku didapatkan. Bermodalkan nekat bukan kepalang seperti banteng membabi-buta, perlakuan mereka bahkan sudah tak layak dibilang seorang manusia.
Indonesia rawan begal dimana-mana, dan tidak kenal waktu entah itu siang, sore, apalagi malam. Dari pisau, pedang, dan pistol asalkan bisa melumpuhkan dengan cepat korban. Mengingat saat ini bukan lagi zaman perang, tetapi justru kemungkinan perang antar sesama manusia saat ini bisa terjadi kapan saja, asalkan aku bisa menyenangkan hasrat mereka. Bahkan harum wangi diriku bisa merasup pada manusia yang masih berumur jagung dan muda, mereka ikut terhasut oleh orang dewasa agar ikut dalam komplotan tak kenal segan dalam bertindak demi diriku. Ingin rasanya aku tertawa, tentu mereka akan lari terbirit-birit jika aku melakukan itu, jadi aku diam saja. Mungkin saja mereka terobsesi pada gambar pada tubuhku, yaitu gambar beberapa para pahlawan dimasa penjajahan dulu, jadi mereka bertindak seolah sedang melawa penajajah, tapi malah terlihat seperti binatang buas tak bertaring.

Padahal, mereka terlahir tanpa diriku sebenarnya mereka sudah lebih dari kaya, bahkan konglomerat. Bagaimana tidak ? Mereka dianugrahi berbagai macam organ yang memiliki fungsi luar biasa, tak ada duanya bila dibandingkan dengan diriku. Jika saja mereka mengerti dan paham cara menggunakan potensi dan apa yang mereka miliki, bisa saja malah aku yang datang dan menghampiri mereka, bukan mereka yang tertatih mengejarku dengan berbagai cara rumit.

Menjual atau mencuri organ manusia itu adalah tindakan keji, bahkan kata keji sendiri bisa jadi tidak cukup untuk mewakilkan tindakan itu hanya karena untuk mendapatkanku, ironi sekali. Mereka mempreteli tubuh mereka seperti mainan robot, mengganggap sepele dan berpikir bahwa aku dapat jadi apa saja dan menjadi apa saja bagi mereka, padahal bisa jadi akulah hambatan dan ancaman paling berbahaya sekalipun mereka memiliki diriku yang ada di seisi dunia.

Para petinggi membuat permainan dengan bersenjatakan diriku, mereka mengatur aturan dalam satu lingkup besar di negeri ini. Dengan begitu mudahnya mereka mengatur sesama mereka dengan keberadaan diriku, saling melecehkan harga diri sesama mereka dengan nominal yang ada pada diriku. Dan kaum rendah dari sebagian mereka rela menjual harga diri mereka demi mendapatkan diriku, semalam, dua malam tak mengapa, asalkan aku ada untuknya dan hadir mencukupi kebutuhan mereka. Tidakah mereka hanya butuh sehelai kain dan sepotong roti bila hidup sesederhana yang seharusnya ? tapi tidak sesederhana itu dalam pikiran mereka. Banyak yang tidak mengucap atau meyakini aku adalah dewa mereka, tapi perlakuan mereka sejak aku dijadikan alat pembayaran hingga kini sudah mencerminkan aku adalah dewa mereka.
Perkenalkan, namaku adalah UANG.

Selasa, 02 Februari 2016

MARI BERMAIN

Posted by Unknown | 09.20 Categories: , ,
Sebuah permainan akan dimulai, dimulai dari pura-pura membuat sebuah negara, tidak lupa beberapa pulau sebagai penghias agar lebih indah saat dimainkan, tak lupa juga buat aturan yang banyak agar permainan lebih teratur, dan tentu dalam permainan ini dibuat banyak pemeran penegak hukum. Dalam permainan ini akan ada banyak golongan yang bebas menentukan tugasnya masing-masing sesuai masalah yang ada dalam permainan.

Baiklah! Aku mau jadi seorang polisi dalam permainan ini.
Oke! Aku mau jadi seorang menteri.
Dan aku presidenya!
Saya jadi penjahatnya ah, biar keren kayak di film dan penuh tantangan!
Kalau saya mau jadi rakyat biasa saja, menikmati dan tinggal demo saja.

Permainan berjalan lancar, negara dalam permainan ini cukup lengkap dan teratur, memiliki banyak lembaga penegak aturan, pemimpin, peran antagonis dan rakyat yang kritis. Uniknya, dalam permainan ini didominasi oleh 3 pemain yang biasa saja mengikuti alur permainan, sisanya 2 pemain yang sangat jenius, atau mungkin bisa dibilang kelewat jenius.

Orang pertama, si Presiden :
Saya ingin jadi pemimpin yang keren di permainan ini, mengatur rakyat dan menaunginya. Tapi tunggu, lama kelamaan kok aku sering dicemooh rakyat sendiri ya? Bukanya seorang presiden adalah orang paling berpengaruh dan dapat mengatur rakyat semaunya? Bahkan aku sering diatur oleh menteriku sendiri, mereka kan hanya membantu aku untuk mengurusi segala urusan sesuai peranku dalam permainan ini, aku makin tidak berdaya.

Orang kedua, si Menteri :
Saya yang membuat permainan ini sejak awal dan lagi saya pula yang mengerti semua watak mereka, hehe mereka takkan menyangka saya hanya berperan sebagai seorang menteri di permainan ini, mereka akan berpikir bahwa Presidenlah yang akan paling berpengaruh dijalanya permainan berlangsung. Sengaja saya tidak memilih peran Presiden agar tidak terlalu mencolok dan dicurigai karena peran yang paling dianggap berpengaruh, dan sayapun akan ketahuan bila memiliki rencana brilian ini. Jika saya sengaja menjadi penjahat dalam permainan ini, tentu permainan akan cepat selesai, sungguh nikmat, menikmati permainan ini sesuai apa yang ada dalam pikiran saya, mereka takan pernah tau. Biarkan saja dulu mereka menikmati peran mereka masing-masing, agar diakhir permainan mereka tau, siapa yang paling mau berpikir selangkah lebih maju. Siapa mengira, cara modern maling masa kini adalah menjadi polisi dan tinggal di pangkalan polisi, tempat paling terakhir atau mungkin tidak akan pernah jadi tempat penggrebekan razia maling dalam permainan ini. Indahnya...

Orang ketiga, si Polisi :
Bodohnya si Menteri hahaha. Dia pikir aku tak mengetahui segala rencana dibalik semua ini, permainan konyol macam ini hanya akan berjalan lancar, iya cukup lancar bila hanya dimainkan anak-anak dibawah usia 7 tahun. Bagaimana bisa dia tertawa puas dalam hati itu, saya bisa mendengar terbahak-bahak dan puasnya hati si Menteri, dan lihat saja nanti. Dia pikir dapat dengan mudah mengakhiri permainan ini sesuai dengan apa yang ada di dalam otak kalengnya itu. Saya cukup paham betul siapa si Menteri sesungguhnya dalam diamku selama ini. Saya sangat beruntung, bisa jadi seorang Polisi bercitra baik dalam permainan ini, saat permainan ini hampir klimaks, saat semua hampir terbongkar aku tak perlu khawatir, karena sang Menterilah yang akan menerima hukuman dan cercaan dari yang lainya, karena takkan pernah seorang Polisi melakukan sesuatu tanpa suruhan Menteri di permainan ini, mudahnya diri ini akan bersembunyi dibalik alibi besar berkat kebodohanya yang aku kagumi selama ini. Haha
Orang keempat, si Rakyat :
Permainan ini sangat seru, menyenangkan, dan aku menikmati sisi rumit dari permainan ini. Aku mulai banyak belajar dan sedikit tau tentang dunia dari permainan ini, hingga aku mulai sadar akan hal meriah yang para peran petinggi dalam permainan ini yang direncanakan. Tapi aku harus bersabar, menunggu dan sabar. Perlihatkan saja siapa aku yang dulu saat permainan baru dimulai, atau sebut saja betapa bodoh diriku hingga mereka terlena akan itu. Mereka cukup jenius, cerdik dan pintar. Mereka begitu lihai dan jago dalam banyak hal, tapi kecerdasan mereka membutakan segalanya melebihi cinta yang diperibahasakan dapat membutakan segalanya, ternyata kecerdasan mereka akan berujung na’as. Melalaikan mereka dalam berbagai hal, mereka terlalu bangga pada peran mereka, yang jelas ini hanya permainan dan kita seharusnya sama-sama tau akan ada ekor permainan. Dan mereka tak sadar, bahwa yang berproses dan banyak belajar akan lebih cepat berkembang dan meraih, daripada diam ditempat dan mempertahankan satu hal yang tak berubah-ubah sama sekali, dan mereka membanggakan itu. Ironi.

Orang kelima, si Penjahat :
Permainan ini, sungguh memuakan. Aku telah bosan dengan kehidupan nyata, dan belajar juga tau akan banyak hal, karena itu aku memilih peran penjahat dan berpikir bahwa hanya disini aku dapat menjadi jahat selagi tau ini semua hanya drama dan berakhir. Tapi ada apa dengan mereka itu, bangga dan tersenyum manis seakan semua ada dalam skenario murahan ala klasik gerilya zaman penjajahan Belanda. Siapa aku ? Tentu orang yang sudah berpengalaman di dunia sebenarnya dan sedikit banyaknya mengetahui apa yang ada di dunia sesungguhnya daripada memukul dada dengan bangga, membanggakan beton mainan dan menginjaknya seolah takkan runtuh, lihat apa ini? Mereka mencoba melawak di hadapanku ataukah memang tak cukup pintar untuk meresapi bagaimana semua hal bergulir disekitar usia mereka yang menua. Saya ikuti saja mau mereka, dan diakhir permainan saya pikir bukan diri sayalah yang pantas saya bawa pergi dan tolong terlebih dahulu, tapi orang yang benar-benar tak banyak belajar dari permainan ini dan dunia nyata. Kutunggu itu.

Senin, 01 Februari 2016

Itu ponsel genggamu bisa lebih kuno tidak ? Saya tau kamu tidak miskin dan tidak susah bila hanya untuk membeli ponsel yang jauh lebih bagus, dasar orang bodoh dan pelit pada hidup sendiri ya begitu, percuma saja kamu bekerja dan mendapatkan hasil berlimpah tapi masih saja kolot. Terlalu! Untuk apa kamu mempertahankan wanita seperti dia ? Untuk menghargai jeripayah kamu saja sulit, lantas apa harga yang bisa kamu dapat saat bersama dia. Hidupmu terlihat makin sia-sia bila hanya untuk menjalani dan bertahan denganya, yang mungkin bisa saja kamu mendapatkan wanita jauh lebih baik dari dirinya. Kata sinting dan orang kalap kurang makan tak cukup menggambarkan bagaimana gilanya perasaan kamu padanya saat ini. Sudah kepala tiga masih saja terjebak dalam dunia khayalan tidak nyata, waktu yang kau habiskan untuk mengurusi apa yang tidak nyata itu tak kurang dari harga sampah loakan. Sia-sialah masa hidupmu saat bermain game itu, cobalah sedikit berpikir waras dan dapatkan jawaban atas pertanyaan mengenai hal baik apa saja yang bisa kamu dapatkan dari bermain dan berkecimpung di dunia semu itu ? Mungkin saya sia-sia berbicara soal ini, enyahlah dalam kekonyolanmu itu, aku tak peduli lagi.

Kenyamanan dan kemampuan saya dalam memakai ponsel kuno ini sama seperti kamu memakai ponsel terbaru yang kamu banggakan itu. Ini adalah ponsel pertama yang saya miliki dengan jeripayah saya dan menemani karir saya, ketimbang ponsel terbarumu yang didapat dari hadiah orang tuamu, bisa jadi paksaan dan tuntutanmu ponsel itu ada dan hanya jadi sekedar bahan kebanggaan yang justru nilai gunanya jauh lebih busuk dari ponsel kuno miliku yang kamu kutuk setiap hari dari mulutmu yang takan pernah bercermin.

Dialah satu-satunya orang sekaligus kekasihku yang tidak pernah mengeluhkan apapun soal kekurangan diriku, bahkan ribuan kata busuk orang lain tentangkupun dia tak percaya. Pernah pula ku berdekatan dengan wanita yang zaman ini bilang wanita aduhai dan mendekati sempurna, atau tidak sama sekali, bagaimana tidak, jauh dari tutur lembut dan wajah yang memancarkan kecantikan seperti dia, tak kurang dan tak lebih menghargai dirinya sendiri dan hubungan yang dijalaninya dengan beberapa lembar uang, membandrol asa dan hasrat setiap insan yang dekat denganya dengan kompensasi lembaran bernominal. Ataukah kamu memang lebih memberatkan diri pada gengsi di zaman ini, hingga rela membohongi diri dan memberikan saya cemoohan mengenai wanita yang saya
 perjuangkan mati-matian dan memilih wanita berbibir merah merona semacam lintah busuk yang menghisap banyak uang bagai darah segar tak sadar akan mati kekenyangan seperti harga dirinya yang telah lama mati juga ? Namun jika memang kamu mencintai dia dengan tulus, mengapa kamu masih mengoceh dan bertanya mengapa saya masih memperjuangkan wanita itu ? Jangan pura-pura bodoh, karena saat jadi bodoh sungguhan gejalanya seperti kamu.

Dari game yang kamu anggap busuk ini, saya mengerti bagaimana rumitnya komponen komputer. Dari game berisikan kesia-siaan yang kamu sebut ini, setidaknya saya masih mengontrol diri dirumah dan merasakan hangatnya suasana keluarga dalam rumah. Dari game pembuang waktu paling berharga yang kamu sebut tadi, setidaknya game ini membuang waktu saya untuk mengerti situasi dan keadaan dunia saat ini melalui obrolan sesama pemain game ini. Sedangkan kamu memaksa orang tua membeli komputer dengan spesifikasi tinggi, saat komputer itu rusak, kamu tetap bergantung pada tukang servis. Kesia-siaan mana yang kamu maksud ? Bermain game dibawah pengawasan keluarga dan kebersamaan dirumah, atau setiap hari menyusuri jalan dengan knalpot bersuara kambing disembelih milikmu yang merusak gendang telinga masyarakat yang kau sebut keren dimasa kini ? Saya sempat berdoa untuk sesama saya yang berada dibelahan bumi sana yang keadaanya jauh lebih bersahabat dengan rudal dan peluru setiap harinya, apa ? negara mana ? bukankah kamu punya waktu untuk mengoceh soal saya ?





Minggu, 31 Januari 2016

Tumang, harimau jantan berbadan kekar untuk seukuran harimau normal, sejenis macan loreng, berbulu seraya beludru ala karpet rumah konglomerat tapi menempel pada salah satu hewan paling buas. Tumang, melompat dan bergerak mengibaskan badan tak tentu arah, seperti bayi kera kegirangan, bermandikan darah pada bagian mulutnya, tak cukup otak Tumang menalar gibasanya memuncratkan darah di mulutnya itu pada Kakek dan Nenek pengasuh Tumang.
Bug ! Bug ! Craaak !
Tiga hantaman cangkul sang Kakek tercinta si Tumang menghantamnya tak terbendung, menambah nuansa meriah bermandikan darah yang awalnya hanya di bagian mulut darah harimau, kini Tumang facial dengan darah, tewas tanpa pesan Tumang tergeletak lemas di sawah tempat kakek dan nenek pengasuh si bayi manis kecil Tumang. Si kecil Tumang yang kekar mati terkena hantaman cangkul sang kakek terkasih.
Syukurlah, kini ular cobra yang berada di sebelah bayi mungil polos dikamar dalam rumah kakek dan nenek telah mati, warna kain diatas kasur jadi merah merona darah segar dari ular cobra. Sang penyelamat Tumang telah tumbang setelah berhasil menyelamatkan sang bayi kesayangan terbaru kakek dan nenek yang tak dikaruniai buah hati sekian lama, kata manusia : “ bagaikan menolong anjing terjepit, sudah ditolong malah menggigit.” Lantas apa kata harimau jika menolong manusia malah dicangkul hingga mati ?

Pada dasarnya harimau tetap harimau, ganas, buas, dan karnivora. Tetap punya dua taring tajam pada giginya yang agak sedap terasa bila menancap pada anggota badan, apalagi pada tubuh semungil bayi, dan cakar yang lumayan membuat kulit jadi meriah akan darah bila dicakar walau sedikit. Tak peduli, harimau besar dan kekar, bersama bayi kecil dalam rumah, lantas datang dengan mulut berdarah, tentu itu darah sang bayi karena harimau akan memakan daging saat lapar. Terkutuklah !

Kakeek ! Neneek ! ada ular cobra mendekati bayi kalian, aku telah membunuh cobra itu dengan taringku, cepat kakek !  nenek ! lihat ! mulutku dipenuhi darah cobra yang mengancam jiwa bayi kesayangan kalian. Kakek ? kenapa mencangkul wajahku ? kenapa tega kakek ? bukankah aku ini harimau kesayanganmu sejak bayi ? kenapa kakek mencangkul wajahku seperti harimau kelaparan yang sedang mencincang daging rusa amat terasa lezat baginya ? kakek, jangan ! hanya bangsa harimau yang boleh memakan daging mentah ! kenapa kakek memakan fakta mentah sepihak ? hanya karena melihat fakta sekilas, aku kira manusia tidak suka yang masih mentah.

Seorang kakek membunuh seekor harimau asuhan bersama nenek sejak harimau masih bayi, dengan begitu hebatnya pertunjukan cipratan dari dari wajah harimau na’as itu, jelas tewas seketika tanpa pamit.


Kita negara demokrasi men, bebas beropini, bebas berpendapat. Sara ? Rasis ? Sarkarsme juga ? Yang penting kan dasarnya bebas beropini dong ? Jelas bebas ya bebas. Apa ? Solusi ? Siapa yang peduli, semau-mau mulut saya dong, semau-mau jari saya dong, ngacak-acak dunia maya dengan kutukan dan cemooh kotor nan murah meriah di sosial media, akun juga akun saya sendiri. Yang penting aku lihat berita di TV dia kagak becus jadi pemimpin, dasi doang dengan pakaian rapih, tapi otaknya kusut macem benang layangan anak lagi main. Gak peduli ya, salah ya salah aja, TV aku gak mungkin rusak, tayanganya bilang gitu.

Wah ada berita bagus, toh ini negara demokrasi, bebas beropini. Fakta atau palsu ? waduh, hari gini masih mikir gitu anak istri dirumah makan apa, yaudah tulis dan tayangkan saja yang meriah, biar rame. Percaya atau enggak itu urusan mereka, bodoh aja kalo percaya mentah-mentah sih. Bahkan orang yang lagi jadi topik pembahasan di tayangan gua aja diem aja tuh, santai dia, remuk dan busuknya kosa kata publik dari rakyat ke pemimpinya itu seru men, biar kaga sepi ini negri, sensasi segaaar, duiit segaaar.

Badanya kekar dan tegar, belasan tahun berkiprah di dunia militer. Otaknya cerdas dan dihiasi beragam proses cermat dalam beradaptasi dalam semua keadaan. Sehat dan kuat, anti karat, anti loyo apalagi lemas seraya kuda liar sumbawa. Seberapa banyak lembar nyali masalah menghadang dihapanya, siapkah untuk dirobek perlahan dan satu persatu bagai plester yang dilepas dari kulit penuh bulu kaki panjang nan lebat ? Dagunya tegap tanpa gentar, tegak lurus ke depan, beragam masalah lumer seperti sebuah es batu masuk dalam lubang kawah berisikan lava hangat baginya.
Na’as, orang-orang yang seharusnya mendukung dia, memberikan solusi dan berjuang bersama denganya, mengguyurkan air ludah tepat pada wajahnya di depan banyak orang lainya. Harga dirinya seperti kotoran ayam ditengah tumpukan rongsokan. Bahkan para pengikut dan pemujanya, membelot dan berkelit tajam dan memilih segelintir uang, tak lupa ikut membasahi mukanya dengan ludah segar siap tembak.
Dialah pemimpin bangsa, dialah wakil sebuah negara, dialah yang berdiri tegak dari jutaan orang dibelakangnya, dan dia jugalah yang telah diludahi hingga basah kuyup oleh para anggota yang dipimpinya.
Hanya karena sesekali para anggotanya, melihat sedikit manipulasi informasi di media masa kini. Mereka makan dengan lahap daging informasi dengan mentah-mentah bermandikan darah, lahap sekali, seperti hyena tak makan 7 hari melihat bangkai kuda, lahapnya tak tertandingi.
Tumang, tidak ada yang salah, kakek dan nenek tidak salah, engkaupun juga tak salah. Hanya saja peduli akan sebab-akibat itu perlu banyak upaya, tidak seperti lahapnya makan daging mentah saat kelaparan hebat.

Kamis, 28 Januari 2016

REALITA DIBALIK JENDELA

Posted by Unknown | 14.07 Categories: , , ,
Tak banyak orang mau percaya padamu, sebelum kedua mata orang-orang menempel atau sepandangan denganmu atas apa yang terjadi pada dirimu dan semua yang telah kau lihat. Banyak orang mengumpulkan berbagai cara agar mau percaya dan membuktikan. Segala macam tuntutan membuat beragam cara dilakukan agar dapat menghasilkan keputusan.
Rasanya memang agak sedikit aneh, bila sesama manusia harus menempuh beberapa cara, hanya untuk sekedar percaya untuk beberapa hal, bahkan untuk satu hal saja. Memang keadaan yang terlalu nyata, atau pikiran manusia yang sudah sulit menjadi nyata.
Who knows...

Jumat, 27 Maret 2015

Ketikan Paling Gak Penting

Posted by Unknown | 09.40 Categories: , ,
Sebagian besar orang yang kulihat adalah berada di dunia ini, mungkin hampir semua yang pernah kulihat, sisanya di mimpi dan sedikit saat lamunan. Saya merasa kegilaan dalam otak ini makin parah, atau mungkin saya terlambat menyadarinya, bisa jadi saya sudah gila sejak awal, jauh sebelum saya menulis ini, mengetik mungkin.
Entah karena saya yang sangat suka menggunakan otak saya untuk fungsi yang kurang bermanfaat bagi saya, atau mungkin memang saya harus memecahkanya sendiri. Banyak orang bilang sakit itu gangguan salah satu organ tubuh kita yang harus diobati, dengan cara minum obat dan istirahat yang cukup untuk mengembalikan keadaan tubuh kita kembali ke normal lagi. Sebagian orang aneh lain mengatakan bahwa sakit itu adalah sahabat yang kita harus rangkul dan tak bisa dipungkiri kita akan hidup berdampingan dengan sakit itu. Teori yang cukup untuk menularkan sifat gila ke orang lain. Dari perkara klasik itu saya dapat simpulkan bahwa, manusia hidup hanya bergelut dengan sesame demi mempertahankan teori mereka hingga mereka mati, tak jarang ada yang mau meneruskan teori itu dengan penuh pengorbanan nyawa yang mereka anggap setimpal dengan perjuangan orang sebelum mereka.

Minggu, 26 Oktober 2014

Perbedaan Kita dan Orang Tua Kita

Posted by Unknown | 23.34 Categories: , ,
Gua ngantuk, ini guru ngomong melulu gak berenti-berenti gua pusing dengernya, pelajaranya ngebosenin, mana panas lagi ni kelas, kenapa gua kudu sekolah sih !
Enakan juga dirumah, mending tidur dikamar, atau engga main bareng temen-temen, jalan-jalan atau kemana kek yang asik-asik..
Di sekolah bikin muak, dari pagi sampe siang gitu-gitu melulu, dipaksa ngapalin materi yang bikin gua mau muntah, dipaksa ngerti materi padahal gua sendiri gatau apa tujuan dan keuntungan kalo gua ngerti itu pelajaran.. Gua jenuh ! bolos aja yuk, kayaknya enak jalan-jalan, atau ke warnet aja deh, maen game semau-mau gua ajah..!
Gua males sekolah ! ada upacara lagi ! apaan coba, dijemur dilapangan sejam lamanya, suruh diem badan kayak patung, bikin item aja..!

Saya ikhlas kepanasan demi dia, saya rela lelah dan badan hancur demi dia, agar dia mampu bersaing dan mampu melanjutkan apa yang dia ingin raih..
Saya rela kepala untuk kaki dan kaki untuk kepala, akan kulakukan apapun demi dia, buah hati tercintaku.. Akan kucari uang yang banyak, dan kudaftarkan dia ke sekolah paling bonafide di kota ini, agar dia senang belajar dan menuntut ilmu..
Saya seharian ini kelaparan tidak mengapa, asalkan dia kenyang jajan di sekolah agar semangat belajar.. Bajuku semuanya sudah usang, itu bukan masalah, asalkan seragam anaku di sekolah tidak kumel dan jelek, kasian dia bila seragamnya jelek dan dilihat oleh teman-temanya..
Mungkin sudah jadi sebuah danau keringat yang kuperas demi anakku..
Mungkin sudah jadi jutawan bila uangku dikumpulkan, tapi aku lebih memilih miskin tetapi anakku sejahtera..
Mungkin nikmat sekali bila bisa hidup santai dan nyaman dirumah menikmati masa tua, tapi aku memilih meremukan tulang-tulangku, demi seonggok uang yang akan sokong dia ke jenjang demi jenjang, meski tubuhku sudah tak berbentuk lagi, tapi akan kusisakan kedua mataku untuk melihat dia sukses kelak . . .


AKU TIDAK INGIN RUMAHKU SEPI

Posted by Unknown | 23.30 Categories: , ,
Rumahku berisik, rumahku banyak omelan gak penting, rumahku banyak aturan, rumahku kotor, rumahku berantakan, rumahku bau asap rokok, rumahku panas, rumahku sangat tidak nyaman, rumahku bau ompol, rumahku bising akan musik yang aneh..!
Gua muak dirumah ! mending gua pergi bareng temen-temen keluar, dirumah bikin sumpek aja !

Sekarang rumahku sepi, rumahku bersih, rumahku tertata rapih, rumahku sejuk, rumahku sangat nyaman dan terasa luas, rumahku tenang dan sunyi senyap, tapi aku tidak menginginkanya, aku ingin semua benda dirumahku berantakan sehabis digunakan, aku ingin rumahku bising akan aktivitas, aku ingin rumahku banyak aroma kegiatan yang sedang berlangsung..
Bila rumahku demikian, aku tidak akan beranjak dari rumahku lagi, aku janji ! Aku akan tinggal dan betah dirumah ! apa kalian dengar ! Hoooooii ! Kemana semua penghuni rumahku !

Saya menyesal dulu pernah marah sekali karena Bapak kelepasan buang angin disebelahku, saya menyesal dulu pernah merasa tidak nyaman karena aktivitas bising Bapak dirumah, saya menyesal pernah menolak dipeluk Bapak, saya menyesal pernah mengelak saat ingin dicium beliau..
Satu anggota keluarga saja . . .
Bapak . . .
Telah pergi dari rumah untuk waktu yang tidak bisa kuhitung seberapa lamanya, tapi rasanya rumah ini sudah berbeda, rumah ini terasa sunyi, rumah ini senyap, ada yang hilang..

Kali ini saya akan membiarkan rumah ini bising akan suara mesin jahit Mamah, saya akan membiarkan TV menayangkan sinetron yang saya benci, saya akan membiarkan omelan-omelan dari mereka kepada saya..

Karena saya tidak ingin rumah ini semakin sepi dan sunyi..
Saya menangis histeris dan berteriak sekeras saya mampu dan terlarut dalam penyesalan di rumah yang sepi dan hening..
Dan saya tidak mau itu terjadi..
Mamah, Kakak, Adik, dan semuanya seisi rumah yang bersamaku..
Lakukan apapun sepuas kalian dirumah ini..
Dan kalo boleh..
Saya bantu ya . . .

Pengakuan Kiki

Posted by Unknown | 23.26 Categories: , ,
Saya ingin mengaku..


Saya acap kali tertawa akan ketidaknormalan yang dimiliki orang lain..
Padahal saya jauh lebih tidak normal dari orang-orang itu..

Saya sering sedih dan geram bila ada teman atau anak yang berlaku kasar pada orang tuanya..
Padahal tanpa sadar hampir setiap hari saya membentak orang tua dirumah..

Saya sering memberi masukan dan komentar pada orang lain..
Padahal sebenarnya saya sendiri yang butuh masukan dan komentar dari orang lain..

Saya sering marah ketika teman atau orang lain ingkar janji pada saya..
Padahal orang tua saya jauh lebih banyak memberi maaf karena saya ingkar janji pada mereka..

Saya menyayangi teman-teman dan orang-orang yang dekat dengan saya, saya memberi mereka banyak hal..
Padahal rasa sayang saya itu seperti satu butir debu bila dibandingkan dengan rasa sayang sebesar bumi ini yang diberikan orang tua untuk saya dan mereka belum pernah saya beri apapun..

Saya sering mengeluh akan keadaan dan kesukaran dalam hidup saya..
Padahal banyak orang diluar sana menangis tersedu karena tidak memiliki apa yang saya miliki..

Saya banyak meminta pada Tuhan ini dan itu..
Padahal saya sendiri tidak sadar bahwa apa yang saya minta sudah diberi olehnya jauh sebelum saya meminta..

Saya merasa sehat dan mampu melakukan apapun dengan bebas..
Padahal yang sekarang saya lakukan tidak jauh berbeda dengan orang terkena stroke..

Saya sering bertanya mengapa wajahku demikian depan cermin..
Padahal di belahan bumi lain, banyak orang sibuk menutup wajahnya karena saking malunya betapa “indah”  wajahnya bila diperlihatkan orang lain..

Rabu, 27 Maret 2013

Untuk Apa Aku Sekolah

Posted by Unknown | 08.18 Categories: , , ,
Sekolah adalah lembaga pedidikan yang bertujuan memberi pendidikan pada generasi muda, dari mulai kita kecil yaitu play group, TK, SD, SMP, SMA bahkan mencapai perguruan tinggi.

Yang jadi pembahasan saat ini adalah, sudahkah kita benar-benar dapat ilmu dari sekolah kawan...?
Sudahkah kita mengamalkan sepenuhnya dari yang kita dapat di sekolah selama bertahun-tahun lamanya...?
Aku pernah dengar kawan, sekolah hanyalah penjara kebebasan yang dibatasi dengan dua waktu, istirahat dan belajar. Aku tidak mengerti benar apa maksud dari kalimat itu, tapi yang jelas, aku masih bingung harus bagaimana menyikapinya, terkadang aku juga bosan terhadap sekolah yang rasanya sangat suntuk kawan, sedari kecil aku menghadapi buku, guru, pelajaran, bangku, meja, papan tulis, dan lain sebagainya yang sudah tak asing lagi dihadapi kita dalam sekolah. Bosan ! amat bosan !

Terkadang juga aku teramat bosan dengan kehidupan yang seperti ini, seiring berjalanya waktu dan zaman, aku mulai menelisik dan berpikir kritis, dalam sekolah yang monoton dan statis ini, tak ada perubahan yang signifikan atau peruntungan yang setimpal. Aku mulai jenuh teramat dasyat, terlebih jika tak ada eskul yang kuikuti, itu lebih tepatnya penjara dalam kebebasan, meski agak sulit membayangkanya.

Tetapi kawan, jika kita selalu mengikuti hawa napsu dan ambisi pesimis keburukan kita, takan ada habinsya, karena pada dasarnya sifat manusia memang takan ada titik puncak kepuasan, rem yang bisa menghentikan sifat buruk itu hanyalah. . . . .        Bersyukur . . . . .
Ketika dalam perenunganku yang hampir setiap hari, setiap saat, setiap waktu aku terjaga dalam lamunan bisu, kadang aku juga prihatin pada anak yang jutaan orang yang terobsesi ingin sekolah, lantas kenapa aku setengah menyiakan kesempatan baik ini yang dipersembahkan khusus untuku dengan sepenuh jiwa pengorbanan orang tua agar bisa diriku ini menganyam pendidikan tinggi.

Kadang aku ingin putus asa saja, aku ingin bekerja dan pergi sebebas bebasnya mengarungi dunia ini tanpa harus terbelit beban yang dinamakan sekolah, tapi . . . . .
Apakah janji dan cita-citaku masa kecil dulu harus kurusak, ikrar manisku yang terucap dari bibir mungilku dulu. . . . .


" kiki mau sekolah   ! "
" kiki mau jadi orang sukses mah, mau bahagiakan mamah dan bapak ! "

" kiki sekolahnya kelas berapa ? "
" kelas 5  ! "

"  Hahaha, kamu ini !  TK saja belum tiba-tiba bilang kelas 5 "


Yah, aku masih teramat ingat ketika bibirku selalu mengucap kelas 5 kala setiap orang dewasa menanyakan kelas berapa. Meski saat itu aku masih teramat kecil, sekitar 5 tahun usiaku saat itu.
Dalam renunganku di setiap kesempatan, aku ingin menangis, ingin marah, tapi ini terasa tidak karuan, aku teramat takut menghadapi masa depan, akankah aku jadi pahlawan yang kan tertawa bahagia dan puas di akhir setalah perjuangan sekian kala. Ataukah aku hanya akan jadi pecundang yang hanya bisa meratapi penyesalan dari kebodohan masa lalu.


Kucoba ingat kembali, ketika Mamah dan Bapak pertama kali mengajariku menghitung dan membaca, mereka begitu sabar dan telaten sekali, tak kenal lelah, tapi aku suka diajari itu. Aku terus berkembang dan akhirnya bisa membaca, hingga saatnya pertama kali aku bisa dengan lancar membaca, kubaca semua tulisan yang kutemui, sampai rasanya capek batin kala itu, karena semua tulisan yang dimataku kusebut dan kubaca satu persatu tak perduli apapun tulisanya.

Kembali kuterbawa arus negatif dalam diriku, ah ! kenapa harus sekolah, toh mamahku keluar sejak kelas 3 SD masih bisa hidup dan mampu berdiri tegak menghidupiku hingga sebesar ini. Dan banyak orang sukses tanpa ada gelar doktor atau gelar tinggi hasil sekolah mereka berpuluh tahun.
Banyak pula orang mapan yang buta hurup karena sama sekali tidak makan bangku sekolahan.
Cih, sekumpulan hasutan setan mulai mengerumuniku, aku mulai tergiur.
Satu hal yang bisa meledakan pikiran itu, yaitu memikirkan pengorbanan orang tua.

Satu hal yang tidak aku mengerti, zaman sekarang sekolah amat sangat membosankan bagi sebagian besar kalangan pelajar, coba kawan semua tanya pada teman sebaya dengan jujur, apakah mereka merasa bosan atau tidak. Tentu banyak yang menjawab bosan, suntuk, boring, dan sebangsanya.
Tapi, kenapa orang tua selalu memperintahkan kita untuk terus rajin sekolah dan belajar pelajaran memuakan yang membuat otak panassss....?

Jawaban sementara hasil renunganku adalah, pertama sistem pendidikan, kedua perbedaan jaman, ketiga pengawasan dan pencerahan orang tua.

Pertama, sistem pendidikan di Indonesia bila kiki boleh menalar dan menurut survei kiki, bila ditengok beberapa tahun ke belakang sistem pendidikan di negara ini teramat memprihatinkan, sekolah misalnya, seharusnya menjadi tempat yang penuh dengan ilmu pengetahuan, tempat yang menjadi panutan dan pencerahan bagi generasi muda kini hanya isapan jempol belaka, malahan di bidang pendidikan banyak oknum yang tidak bertanggung jawab memanfaatkan dana pendidikan untuk kepentinganya sendiri.
Hoamz   =_=
Jujur saja, sekolah di jaman ini sudah jarang ada yang benar-benar sekolah mutlak sekolah. Sekolah jaman sekarang juga mengajarkan video porno, kekerasan, rokok, korupsi dan macam hal biadab lainya, kiki tidak ngetik siapa yang mengajarkan hal tersebut dan sekolah mana yang melakukan demikian, tapi secara tidak langsung dari sekolah lah kita mengetahui sedikit banyaknya berbagai hal keji ajaran setan.
iya ?
nggak ?
terserah...

Tapi aku tau semua hal begituan dari sekolah kawan, terkadang aku ingin menyalahkan teman-teman yang memperlihatkan hal semacam itu dulu, tapi mereka takan bertemu denganku tanpa ada sekolah, dan mereka takan sekolah tanpa dorongan dari orang tua, dan begitu seterusnya, aku bingung, siapa yang harus disalahkan.

Lalu aku berbalik memandang diriku sendiri, aku serasa tidak punya tameng untuk itu semua, aku tidak cukup kuat untuk menerima badai topan negatif di sekolah.
Tak sedikit guru yang galak dan tegas, namun tak jarang pula guru yang acuh tak acuh, atas semua keprihatinan ini. Kekacauan ini selalu jadi topik hangat di lamunanku sembari jalani kehidupan, aku masih belum bisa menemukan pencerahan.
Tapi di lain sisi sekolah yang mengenalkanku pada pelajaran, akhlak, sikap, tata tertib, dan semua hal yang berguna untuk hidupku, yah memang semua ada plus mins nya.
Tapi apakah sekolah dulu dan sekarang berbeda...?
Kalaupun berbeda apa yang membuat berbeda....?
Apa dari hal tersebut bisa kita terapkan di jaman ini...?

Pertanyaan selalu menghantuiku....

Sekolah...
oh...
Dulu kala aku kecil, engkau selalu kuidam idamkan, bagaimana rasanya pakai seragam sekolah dan berangkat ke sekolah tanpa pengawasan dari orang tua serasa merpati terbang bebas.
Tapi kini, sekolah hanyalah tuntutan perharinya, yang terkadang setengah hari dalam menjalani ini semua.
Meski ku sudah tau itu tak baik pada diriku nantinya.

Apakah sistem pendidikan di Indonesia dapat menemukan pencerahan.....?
Tawuran antar pelajar.
Sedari SD yang kenal nikotin.
Narkoba beredar dengan bebasnya di kalangan pendidikan.
Sex dan pergaulan bebas tanpa rem yang lebih spesifik.
Moral dan etika pelajar yang sudah tak asing disamakan dengan preman terminal, terkadang bisa lebih buruk dari itu.....

Tetapi kawan, itu semua hanya renunganku belaka, semua terserah padamu kawan...
Kiki hanya ingin berbagi. . . .

Beberapa hal yang kuingat ketika aku mulai malas sekolah,

ingat wajah Mamah dan Bapak saat bekerja keras untuku, bermilyar biaya untuk hidupku, bernewton-newton tenaga dipaksa keluar untuk sesuap nasi dan beberapa peser uang untuk SPP sekolahku, tangisan dan jeritan yang mereka tahan demi membuat senyum pada anaknya agar mereka tetap terlihat baik. Agar anaknya bersemangat dalam menuntut ilmu. Dan berjuta pengorbanan orang tua yang takan berhenti mengalir, sungai amazon pun takan tertandingi aliranya.


Aku hanya bisa memikirkan bagaimana caranya agar kelak mereka tua nanti bisa tersenyum bahagia melihat kesuksesanku dengan puas dan bangga, tanpa ada ganjalan kelak mereka pergi untuk selamanya.
Aku selalu menangis ketika ingat ini.

LEBAY KAH AKU   !?
Kurasa iya   !   Tapi memang begini adanya  !

Aku hanya bisa diam dan mengurus diriku sendiri, tanpa harus berkoar kemana-mana, kujalani ini semua kawan dengan potongan-potongan sikap yang tak menentu.

Terkadang putus asa, terkadang semangat, terkadang bosan, terkadang sadar, terkadang lesu, dan apapun itu.

Hanya dengan membina diriku sendiri tanpa menoleh ke kanan kiri, kurasa hanya itu langkah terbaik yang dapat kuperbuat.

terima kasih kawan.

Sekolah  ^_^















  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube